Rabu, 11 Agustus 2021

KERAJAAN HINDU

                       KERAJAAN MATARAM KUNO DAN SINGOSARI

                                                               

Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno adalah kerajaan bercorak Hindu-Buddha pernah berkembang di Bhumi Mataram (sebutan lama untuk Yogyakarta). Sejak pertama kali didirikan pada 732 Masehi, kerajaan ini sempat mengalami beberapa kali perpindahan ibu kota, hingga akhirnya pindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Pada periode Jawa Timur, kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Kerajaan Medang. Pendiri Kerajaan Mataram Kuno adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, yang berkuasa antara 732-760 Masehi. Selama hampir tiga abad berkuasa, terdapat tiga dinasti yang memerintah kerajaan, yaitu Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra (di Jawa Tengah), serta Dinasti Isyana (di Jawa Timur).

Puncak kejayaan Kerajaan Mataram Kuno berlangsung pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra, yang berkuasa mulai akhir abad ke-8. Pada masa keemasannya, kerajaan mengalami perkembangan di berbagai bidang, seperti politik, ilmu pengetahuan, kesenian, budaya, dan sosial.

Wilayah kekuasannya pun sangat luas, bahkan mencapai Semenanjung Malaka. Sumber sejarah Kerajaan Mataram Kuno cukup banyak, beberapa contohnya adalah Prasasti Canggal, Prasasti Mantyasih, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan yang menjadi peninggalannya


Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok yang sekaligus menjabat sebagai raja pertama dengan gelar Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi pada 1222 masehi.

Sumber Kerajaan Singasari dapat diketahui dari Kitab Pararaton dan Negarakertagama, serta prasasti-prasasti peninggalannya. Menurut Pararaton, sejarah berdirinya Kerajaan Singasari berkaitan erat dengan kisah pendirinya, Ken Arok. Ken Arok adalah seseorang dari kalangan sederhana yang memulai karir dengan menjadi pengawal Tunggul Ametung, seorang akuwu (camat) di Tumapel. Saat bekerja menjadi pengawal Tunggul Ametung, Ken Arok tertarik kepada Ken Dedes. Ken Dedes adalah istri Tunggul Ametung yang sangat cantik. Keinginan Ken Arok untuk memiliki istri majikannya semakin kuat saat Ken Dedes diramalkan akan menurunkan raja-raja tanah Jawa.

Ken Arok kemudian membunuh Tunggul Ametung dengan Keris Mpu Gandring. Setelah itu, Ken Arok menyatakan dirinya sebagai akuwu baru Tumapel dan menikahi Ken Dedes. Pada saat itu, Tumapel masih menjadi daerah kekuasaan Kediri.

   KLIK LINK SOAL DIBAWAH INI!

     https://forms.gle/w5EAeDqSWbocjgGz5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

peninggalan zaman pra aksara

                                          Peninggalan Zaman Praaksara Zaman praaksara tidak meninggalkan bukti-bukti berupa tulisan. Temuan ...